Selasa, 12 Juli 2011

Laporan Asidi-alkalimetri


ANALISIS KUANTITATIF
ASIDI - ALKALIMETRI

A.    Tujuan

Tujuan percobaan ini adalah untuk menetapkan kadar asam dengan menambah pereaksi tertentu untuk menaikkan keasamannya, sehingga dapat dititrasi dengan baku alkali. 

B.     Landasan Teori

            Asidi alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi juga dapat dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam) dengan penerima proton. Metode titrimetri masih digunakan secara luas karena merupakan metode yang tahan, murah, dan mampu memberikan ketapatan yang tinggi. Keterbatasan metode ini adalah bahwa metode titrimetrik kurang spesifik. Dalam analisis titrimetri atau analisis volumetri atau analisis kuantitatif dengan mengukur volume, sejumlah zat yang diselidiki direaksikan dengan larutan baku (standar) yang kadar (konsentrasinya) telah diketahui secara teliti dan reaksinya berlangsung secara kuantitatif.  Suatu titrasi yang ideal adalah jika titik akhir titrasi sama dengan titik ekivalen teoritis. Dalam kenyataannya selalu ada perbedaan kecil. Beda ini disebut dengan kesalahan titrasi yang dinyatakan dengan mililiter larutan baku. Oleh karena itu, pemilihan indikator harus dilakukan sedemikian rupa agar kesalahan ini sekecil-kecilnya. Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solut) dinyatakan dengan konsentrasi. Istilah ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung sebagai berat (gram) tiap satuan volume (mililiter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan kadar seperti ini adalah gram/mililiter (Rohman, 2007).
            Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam. Sebaliknya, alkalimetri merupakan penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Keasaman permukaan merupakan jumlah asam total (asam Brønsted dan asam Lewis) pada permukaan padatan yang dinyatakan sebagai jumlah milimol asam perberat sampel (Widihati, 2008).
            Pada analisis titrimetri atau volumetrik, untuk mengetahui saat reaksi sempurna dapat dipergunakan suatu zat yang disebut indikator. Indikator umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. Indikator dapat menanggapi munculnya kelebihan titran dengan adanya perubahan warna. Indikator berubah warna karena sistem kromofornya diubah oleh reaksi asam basa (Suirta, 2010).
            pH adalah salah satu variabel yang harus dikontrol, terutama sekali bila hasil (produk) pengolahan proses akan dikonsumsi mahluk hidup. Pengolahan limbah (waste water treatment), industri dengan bahan baku kimia dan penyedia air bersih adalah salah satu contoh proses yang harus mempunyai unit sistem pengendalian tangki penetralan pH.

C.    Alat dan Bahan

1.      Alat

Alat – alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
a.       Buret 50 ml
b.      Gelas ukur 100 ml
c.       Erlenmeyer
d.      Pipet Tetes
e.       Labu Takar
f.       Gelas Kimia

2.      Bahan

Bahan  - bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
a.       Natrium Hidroksida 0,1 N
b.      Gliserol Netral
c.       Indikator Fenolftalein
d.      Asam Borat


E.     Hasil Pengamatan


Hasil pengamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
No
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Asam Borat 0,1 gram + akuades + gliserol (25 ml) + fenolftalein 3 tetes
Larutan tidak berwarna
2.
Asam Borat 0,1 gram + akuades + gliserol (25 ml) + fenolftalein 3 tetes + NaOH (34 mL)
Larutan berwarna pink seulas

Reaksi yang terjadi :
NaOH + H3BO3          pp NaH2BO3 + H2O
     
Perhitungan
·         Data Pengamatan
Volume NaOH yang digunakan 34 mL
Asam borat 0,1 gram  = 100 mg
                ·Kadar asam borat = 21,012%
                                              = 21%

F. Pembahasan

            Titrasi asam basa merupakan suatu metode untuk menentukan konsentrasi suatu larutan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya. Begitu pula sebaliknya, kadar larutan basa ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang telah diketahui kadarnya.
            Pada percobaan titrasi asam basa, titran ditambahkan sedikit demi sedikit sampai mencapai batas ekivalen. Titik ekivalen yaitu pH pada saat asam basa tepat ekivalen atau secara stoikiometri tepat habis bereaksi. Titik ekivalen ini merupakan suatu kondisi dimana terdapat kesetaraan mol titrat dengan mol titran. Pada saat tercapai titik ekivalen, proses titrasi dihentikan kemudian kita mencatat volume titran yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut.
            Pada percobaan titrasi asam-basa yang telah dilakukan, digunakan sebuah indikator yakni indikator fenolftalein (pp). Indikator ini ditambahkan pada titran sebelum titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi dan pada saat itulah proses titrasi dihentikan. Titik akhir titrasi yaitu pH pada saat indikator berubah warna. Fenolftalein merupakan indikator yang sering digunakan. Saat terjadi titik ekivalen, terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Hal ini menunjukkan bahwa larutan berada pada pH asam atau basa. Indikator fenolftalein ini mempunyai warna tertentu pada trayek pH atau rentang pH tertentu yang ditunjukkan dengan perubahan dari warna tersebut. Fenolftalein tidak bereaksi hanya saja saat keadaan basa ia berwarna merah. Oleh sebab itulah, pada percobaan ini digunakan indikator fenolftalein karena indikator ini pada suasan asam tidak berwarna dan pada titik ekivalen berubah warna menjadi merah muda.
            Dalam proses titrasi, untuk mengetahui kemolaran asam (titran) dapat diketahui setelah mengetahui volume titrat yang berkurang sampai proses akhir titrasi. Pada saat itu, mol asam dan mol basa sama, sehingga kemolaran titrat dapat dicari.
            Percobaan ini menggunakan asam borat sebanyak 100 mg sebagai titrannya. Asam borat ini dilarutkan dalam air dan kemudian dicampurkan dengan gliserol didalam erlenmeyer. Larutan ini kemudian dititrasi dengan natrium hidroksida sebagai titratnya. Pada saat titrasi berlangsung dan natrium hidroksida mencapai volume 34 mL, larutan tersebut berubah warna menjadi warna pink seulas. Hal ini kemudian yang menjadi petunjuk agar titrasi dihentikan. Semakin muda warna pink yang terbentuk, maka akan menunjukkan kesalahan yang relatif kecil. Untuk itulah, diperlukan kecermatan dan ketelitian dalam melakukan titrasi. Setelah diperoleh volume natrium hidroksida, maka konsentrasi asam boratpun dapat segera diketahui.

G. Kesimpulan

            Dari hasil percobaan asidi-alkalimetri yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa kadar asam borat yang digunakan sebesar 21%.


DAFTAR PUSTAKA


Mukhlish, Hendra Cordova. Perancangan Kontrol pH Pada Proses Titrasi Asam-Basa. Jurusan Teknik Fisika – Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Keputih Sukolilo, Surabaya.

Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suirta, I.W. 2010. “Sintesis Senyawa Orto-Fenilazo-2-Naftol sebagai Indikator dalam Titrasi.” Jurusan Kimia F-MIPA Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Jurnal Kimia Vol. 4(1).  : 27-34

Widihati, I Gede. 2008.  “Adsorpsi Anion Cr(VI) Oleh Batu Pasir Teraktivasi Asam dan Tersalut Fe2O3”. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran.  Jurnal Kimia Vol. 2 (1): 25-30 ISSN 1907-985025.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentarmu itu pelajaran buat saia..!! +_+